Monday, February 12, 2018

Monday, January 29, 2018

sedikit PPT mengenai komunikasi pendidikan

sedikit teori kouminikasi pendidikan

mengenai pembelajaran

Di media sosial, di televisi atauppun di tempat-tempat “ngumpul” banyak orang yang berdiskusi. Mereka mengamati, melihat dan menilai setiap kejadian dan peristwa. Ada kalimat yang cukup menarik. Setiap akhir kalimat muncul kata pembelajaran. Salah satu percakapan mereka tentang seorang pengemudi motor yang tertabrak oleh angkutan perkotaan, salah seorang mengucap kalimat “biarlah ini menjadi sebuah pembelajaran”. Atau seorang pejabat publik tertangkap tangan olek KPK dan seorang nara sumber di televisi menyatakan “biarlah menjadi sebuah pembelajaran bagi semua pejabat publik” Kalimat ini terlintas terlihat benar, namun sebenarnya tidak tepat jika terdengan oleh seorang pendidik.

Pertanyaan sederhanya adalah apa itu pembelajaran? Gagne dan Briggs (1979) menyatakan a set of events which affect learners in such away that leraning is facilitated. Menurut Atwi Suparman (2014) pembelajaran adalah seragkaian kegiatan belajar yang dirancang agar terarah agar tercapainya perubahan perilaku yang diharapkan. Miarso dikutip oleh Rusmono (2018) mengemukakan bahwa pembelajaran adalah usaha yang disengaja, bertujuan dan terkendalai agar orang lain belajar atau terjadi perubahan yang relatif menetap pada diri orang lain. Kemp (1985) menyatakan bahwa pembelajaran merupakan proses yang kompleks, yang terdiri atas fungsi dan bagian-bagian yang salig berhubungan satu sama lain serta diselenggarakan secara logis untuk mencapai keberhasilan belajar. sementara dalam buku Learning theories karya Dale menjabarkan bahwa pembelajaran merupakan perubahan yang bertahan lama dalam perilaku atau kapasitas berprilaku dengan cara tertentu yang dihasilkan dari praktek atau bentuk-bentuk pengalaman lainnya.


pembelajaran mempunyai tujuan

Dari beberapa definisi dan pandangan para ahli pendidikan dapat kita simpulkan bahwa pembelajaran adalah seperangkat set kegiatan yang bertujuan untuk mencapai perubahan perilaku melalui pengalaman kegiatan belajar. Jadi jelaslah kurang tepat jika kalimat “biarlah ini menjadi sebuah pembelajaran” jika melihat seseorang yang tertabrak oleh angkutan kota. Karena si korban tidak bertujuan untuk ditabrak oleh angkutan kota tersebut. Atau sesorang yang pergi ke bandara, pasti mempunyai tujuan karena jika tidak maka akan bingung untuk apa dan hendak kemana dia berada dibandara? seperti itulah secara sederhananya yang disebut dengan pembelajaran.


DAFTAR PUSTAKA

Rusmono. 2017. Strategi Pembelajaran dengan Problem Based Learning itu perlu untuk meningkatkan profesionalitas guru. Bogor. Ghalia Indonesia

Schunk, Dale H. 2012. Learning Theories an Educational Perspective (Terjemahan). Yogyakarta. Pustaka Pelajar

Suparman, Muhammad Atwi.2014. Desain Intruksional Modern. Jakarta. Erlangga

 


Tuesday, December 5, 2017

Sedikit Mengenai Belajar






Gaya macam-macam mahasiswa itu bermacam-macam. Sangat banyak dan variatif. Sama variatifnya dengan berbagai alasan untuk tidak membaca buku yang menjadi bahan bacaan wajib atau sekuder dalam satu mata kuliah. Pada akhir semester mahasiswa mendapatkan nilai dalam bentuk huruf. Ragam penilaian bermacam-macam, namun lazimnya menggunakan Huruf A hingga E.

Terdapat tiga hasil belajar menurut Anderson (2010) yang pertama adalah tidak ada aktivitas belajar, kedua belajar menghapal (rote learning) dan belajar bermakna (meaningfull learning).


Tiada Aktivitas Belajar

Seorang mahasiswa (anggap saja namanya Joko) membaca buku teks sains pada bab tentang rangkaian listrik untuk menghadapi tes. Ia membacanya sepintas lalu lantaran merasa yakin bahwa tesnya gampang. Saat mengingat kembali materi pelajarannya di kelas, ia hanya mampu menyebutkan sedikit sekali istilah dan fakta kuncinya. Joko tidak terlalu memperhatikan atau memahami materi yang diajarkan gurunya di kelas. Pada dasarnya, ia tidak ada belajar di sini.

Belajar Menghapal

Gunawan membaca buku dan bab yang sama seperti yang dibaca Joko. Ia membaca setiap kata dengan cermat. Ia membaca seluruh bab itu dan mengingat fakta-fakta kuncinya. Ia masih ingat hampir semua istilah dan fakta penting yang diajarkan gurunya dikelas. Berbeda dengan Joko, Gunawan dapat menyebutkan dengan baik komponen-komponen pokok pada rangkaian listrik. Akan tetapi, sewaktu diminta menggunakan informasi tersebut untuk enyelesaikan masalah, Gunawan tidak bisa. Ia pun tidak dapat menjawab pertanyaan sederhana tetang diagnosis masalah pada rangkaian listrik. Gunawan menyimak informasi yang relevan, tetapi ia tidak dapat memahaminya dan, karenanya, tidak dapat menggunkannya. Hasil blajar semacam ini disebut belajar menghapal.

Belajar Bermakna

Starla membaca bab tentang rangkaian listrik yang sama. Ia membaca secara teliti ddan berusaha memahaminya. Sebagaimana Gunawan, ia adapat menyebutkan hampir semua istilah dan fakta penting yang diajarkan di kelas. Sewaktu diminta menggunakan informasi tersebut untuk menyelesaikan masalah, ia dapat mengemukakan banyak alternatif solusi. Hasil belajar seperti ini dinamakan belajar yang bermakna.

Jika kita melihat tiga gaya belajar dan hasil belajarnya maka kita akan mendaptkan pertanyaan sederhana, yaitu apa itu belajar? banyak definisi belajar menurut para ahli;

1.    Harold Spears (1955) menyatakan bahwa learning is to observe, to read, imitate, to tray something themselves, to listen, to follow direction. Definisi ini lebih menekankan pada aktivitas-aktivitas yang dilakukan ketika orang belajar.

2.    Lester D. Crow dan Alice Crow (1958) menyatakan belajar adalah perolehan kebiasaan, pengetahuan, dan sikap, termasuk cara baru melakukan sesuatu dalam upaya-upaya seseorang dalaam mengatasi kendala atau menyesuaikan situasi yang baru.

3.    Cronbach (1960) learning is shown by a chage in behavior as a result of experience. Definisi ini menekankan pada perubahan, akan tetapi dijelaskan juga bahwa perubahan yang dimaksud adalah perubahan perilaku.

4.    Hilgard dan Bower (dalam snelbecker, 1974) belajar adalah suatu proses di mana sebuah aktivitas dibentuk atau diubah melalui reaksi terhadap situasi yang dihadapi, yang mana karakteristik perubahan tersebut bukan disebabkan kecenderuangan respons alami, kematangan atau perubahan sementara karena sesuatu hal. Definisi ini menekankan belajar sebagai proses, bukan sebagai hasil seperti kebanyakan definisi sebelumnya.

5.    Gagne dan Briggs (1979) dalam buku Principles of Intructional Design mendefinisikan belajar sebagai serangkaian proses kognigtif yang mentransformasi stimulasi dari lingkungan ke dalam beberapa fase pemprosesan informasi yang dibutuhkan untuk memperoleh suatu kapabilitas yang baru. Definisi ini menekakkan pula pada proses namun ditekankan bahwa proses yang dimaksud adalah proses kognigtif.

6.    Bell-Gredler (1986) menyatakan belajar sebagai proses perolehan berbagai kompetensi, keterampilan, dan sikap.

7.    Catherine Twomey Fosnot (1996) dalam buku Contructivism: Theory, Perpective, and Practice menyatakan bahwa belajar adalah suatu proses pengaturan dalam diri seseorang yang berjuang dnegan konflik antara model pribadi yang telah ada dan hasil pemahaman yang baru tentang dunia ini hasil konstruksinya, manusia adalah makhluk yang membuat makna melalui aktivitas sosial, dialog dan debat.

8.    Paul Eggen dan Don Kauchak (1997) dalam buku yang berjudul Educational Psychology Windows on Classroom mengemukakan definisi belajar berdasarkan perspektif kognigtif, yaitu: belajar adalah perubahan struktur mental individu yang memberikan kapasitas untuk menunjukkan perubahan perilaku.

9.    Sumadi Suryabrata (2002) menyatakan abhwa belajar adalah suatu proses yang meiliki tiga ciri, yaitu: (1) proses tersebut membawa perubahan (baik aktual maupun potensial), (2) perubahan itu pada pokoknya adalah didapatkan kecakapan baru, dan (3) perubahan itu terjadi karena usaha (dengan sengaja). Definisi ini menekankan pada hasil belajar berupa perubahan pada diri seseorang.

Dari berbagai pendapat para ahli di atas, dapat kita simpulkan secara sederhana bahwa terdapat empat poin penting yang menjadi indikator dari belajar.

1.    Belajar adalah sebuah proses yang memungkinkan seseorang memperoleh dan membentuk kompetensi, keterampilan, dan sikap baru;

2.    Proses belajar melibatkan proses-proses mental internal yang terjadi berdasarkan latihan, pengalaman, dan interaksi sosial;

3.    Hasil belajar ditunjukan oleh terjadinya perubahan perilaku (baik aktual maupun potensial); dan

4.    Perubahan yang dihasilkan dari belajar relatif permanen.

Jadi itulah kesimpulan secara sederhana mengenai belajar. Mahasiswa, mempunyai gaya belajar yang telah dijelaskan di atas, ddan memiliki hasil yang beraga dan bermacam. Jika hasil atau nilai yang diinginkan atau ditargetkan kurang memuaskan, maka pertanyaan sederhananya adalah apakah kita telah melalui proses belajar? sehingga kita memahami bahwa belajar bukan hanya sekedar datang, duduk, diam tanpa ada proses berikutnya. Selamat belajar.



DAFTAR PUSTAKA



Khodijah, Nyayu.2014. Psikologi Pendidikan. Jakarta. Rajawali Press

Anderson, Larin W. Krathwohl, David R. 2010. The Taxonomy FOR Learning Teaching, and assessing: A Revision of Bloom`s Taxonomy Of Educational Objective. Abridged Edition (Terjemahan). Yogyakarta. Pustaka Pelajar